Selamat datang. Selamat belajar, selamat berprestasi. Semoga sukses

Galeri Video

Powered by: Youtube

Kliping Pendidikan

Kliping Berita PNS

Otomotif

wawasan Islam

Kesehatan

loading...
loading...

Inilah Hasil Simpulan Menpora dan Langkah Atasi Kisruh Sepakbola--

Menpora Roy Suryo akan mengambil sejumlah langkah untuk menuntaskan kisruh sepakbola Indonesia. Dalam menjalankan langkah-langkah tersebut, dia akan bersikap tegas kepada dua kubu yang berseteru. Roy memang harus bergerak cepat untuk mencari jalan keluar atas kisruh yang terjadi. Sebabnya, kalau masalah tidak selesai sampai 30 Maret mendatang, FIFA mengancam lagi akan menjatuhkan sanksi kepada Indonesia.

TENTANG KISRUH
Roy mengatakan sudah menemui berbagai pihak untuk mendapatkan masukan dalam usahanya menyelesaikan konflik. Ia juga sudah bertemu dengan Nirwan Bakrie dan Arifin Panigoro, dua orang yang disebut-sebut berada di balik kubu-kubu yang berkonflik.

"Ada dua langkah. Kalau tidak (mau) disatukan, ya tidak dipilih salah satu. Dua-duanya nggak dipilih," ungkap Roy saat berkunjung ke kantor detikcom, Jl. Warung Jati Barat Raya No. 75, Jakarta Selatan, Jumat (1/2/2013) sore.

"Tapi sedang kita pikirkan caranya agar kita tidak kena sanksi. Kita konsultasi dengan FIFA dan AFC untuk melakukan normalisasi. Langkahnya adalah kami mempercepat desakan dari FIFA dan AFC kepada PSSI. Kami tidak akan mengintervensi," sambungnya.

Saat ditanya apakah melihat ada indikasi kedua kubu akan berdamai, Roy pesimistis. Dia mengakui bahwa usaha mencapai perdamaian tak akan gampang.

"Saya harus bilang 'tidak'. Memang susah," ujarnya.

Terakhir, saat diundang oleh program Mata Najwa Metro TV, Rabu (30/1/2013) lalu, Roy menyaksikan dengan mata kepala sendiri La Nyalla Mattalitti berdebat dalam tensi yang sangat tinggi dengan Djohar Arifin -- saat off-air -- sampai-sampai ia harus melerai kedua orang tersebut.

"Tidak benar kalau sampai ada pemukulan. Tidak begitu. Tapi memang tensinya sempat tinggi. Saya bilang, sudah, Pak, sudah, tenang, tenang..." tuturnya.

Roy menambahkan, pihak masih menyusun langkah-langkah dan upaya untuk segera menuntaskan kekisruhan ini, dan berjanji tegas kepada kedua kubu, apabila sudah tidak ada niat positif untuk memperbaiki keadaan. Termasuk soal kompetisi dan klub-klub pesertanya. Apabila tidak segera memenuhi kewajiban-kewajibannya terhadap pemain, pemerintah tidak segan-segan menghentikan kompetisi tersebut.

"Masyarakat harus tahu, tidak ada yang benar 100 persen, juga tidak ada yang salah 100 persen. Kesalahan PSSI juga banyak, kesalahan empat Exco (yang dipecat) itu juga banyak. Dan tidak mungkin dibela salah satu. Kalau tidak bisa di-mix, ya harus di-reset," tukasnya.

TENTANG TIMNAS
Kekalahan skuat "Garuda" dalam ujicoba melawan Yordania kemarin menurut Menpora Roy Suryo merupakan lampu kuning untuk persepakbolaan Indonesia.

Pada pertandingan yang digelar di Amman International Stadium, Yordania, Kamis (31/1/2013) malam WIB, Andik Vermansah dkk. dihantam lawannya dengan skor 0-5. Indonesia akan menghadapi pertandingan yang lebih penting pada 6 Februari, yaitu melawan Irak di babak kualifikasi Piala Asia 2015.

"Kekalahan ini adalah sebagai lampu kuning. Kita tahu, masalah ini buntut dari konflik sepakbola," ujar Roy di Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, Jumat (1/2/2013).

Ia menilai kekalahan tersebut karena timnas belum diisi pemain-pemain terbaik, karena klub-klub ISL tetap melarang pemain-pemainnya membela negaranya.

"Ini adalah sebuah warning untuk kita semua. Harus ada ketegasan dari pemerintah, karena ini menyangkut citra sepakbola Indonesia kalau dibiarkan seperti ini terus,'' sambung Roy.

"Kami prihatin, sementara pemain dilarang, mereka diancam. Jadi saya kira ini sudah merupakan lampu kuning untuk menjadi lampu merah.

Tentang perkembangan rencana langkah-langkah pihaknya untuk menyelesaikan kisruh sepakbola nasional, ia menyebut sebuah deadline.

"Awal Februari akan kami ambil langkah tegas di antara keduanya (PSSI dan KPSI). Kami tidak ingin terulang lagi. Proses akan terus berjalan. Tapi bukan berarti kami mengambil alih soal timnas. Tapi kami bisa memberhentikan liga jika masalah tidak selesai.

"Artinya kami bersama-sama dengan FIFA dan AFC, mengupayakan untuk menyelesaikan konflik ini. Staf saya sudah komunikasikan dengan Zhang Jilong (presiden AFC) untuk mengambil langkah-langkah yang harus kami ambil," imbuhnya.

TENTANG PEMAIN
Pemain yang berlaga di Indonesia Premier League (IPL) dan Indonesia Super League (ISL) punya potensi besar membantu menuntaskan kisruh berkepanjangan di sepakbola nasional. Syaratnya, mereka harus kompak.

Menjadi pemeran utama aktivitas sepakbola, pemain sejatinya punya kekuatan untuk ikut berpartisipai menentukan beragam hal. Mulai dari kebijakan soal kompetisi hingga, tentunya, persoalan-persoalan yang terkait langsung dengan kerja mereka sebagai pemain profesional.

Sayangnya, di Indonesia hal tersebut belum terjadi. Di tengah kemelut sepakbola yang berkepanjangan, yang pada akhirnya ikut berpengaruh pada kesejahteraan masing-masing individu, pemain, yang tergabung dalam Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI), cenderung bungkam dan ikut terombang-ambing dalam kisruh yang berlarut-larut.

Kematian Diego Mendieta yang diterlantarkan klubnya karena gaji yang tertunggak hingga berbulan-bulan ternyata tak cukup memunculkan rasa empati pemain. Rencana mogok sempat terlontar, tapi itu akhirnya cuma jadi wacana tanpa realisasi. Bahkan saat dunia internasional sampai ikut memberitakan nasib nahas Diego Mendieta, aksi nyata dari pemain tak kunjung muncul.

Beberapa pemain memang berani mengambil langkah tegas. Namun jumlahnya cuma segelintir.

"Di APPI, menurut saya, yang berani seperti Bepe (Bambang Pamungkas) dan beberapa pemain lainnya tak banyak. Buat mereka gak ada kompetisi tidak apa-apa karena nantinya tetap akan di-hire (klub lain). Tapi bagaimana dengan pemain muda, mereka masih mencari nama, mencari duit. Kan susah," sahut Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, saat berkunjung ke markas detikcom dan berbincang-bincang dengan detiksport, Jumat (1/2/2013) sore WIB.

Dalam upayanya meredakan kisruh sepakbola di tanah air, Roy mengaku sudah melakukan pembicaraan dengan APPI. Ia mengatakan bahwa APPI memang butuh mengambil langkah. Dan akan ada gerakan yang bakal dilakukan APPI bersama Kemenpora, nantinya gerakan itu mau tak mau harus diterima oleh PSSI dan KPSI.

"APPI ini saya perhatikan benar. Makanya saya minta komitmen juga. Supaya kompak. Ada langkah yang akan dilakukan APPI. Mereka akan melakukan satu gerakan, bareng ini nanti kita bergerak juga. Atas bergerak bawah bergerak. Dua organisasi ini (KPSI dan PSSI) nanti harus menerima kondisi ini," lanjut Roy.

Dilanjutkan Roy, saat ini dirinya sudah memiliki pengakuan tertulis dari sekitar 30 pemain yang belum terpenuhi hak-haknya. Dengan jumlah yang terus bertambah, bukti-bukti tersebut nantinya akan digunakan untuk menekan pihak-pihak yang berseteru.

"Saya sudah undang pemain, terasuk Bepe dkk ke kantor. Sudah dapat data pengakuan dari 30 pemain, mereka dikontrak berapa dan baru dibayar berapa. Semua hitam di atas putih. Saya tidak mau cuma dengar dari sana-sini," tegas Roy.

TENTANG PELARANGAN BERGABUNG DENGAN TIMNAS
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo akan "memaksa" klub-klub ISL untuk melepas pemainnya ke timnas Indonesia. Di sisi lain, ia juga meminta PSSI memperbaiki cara pemanggilannya.

Hal itu dikatakan Roy dalam perbincangan dengan detiksport di kantor redaksi detikcom, Jakarta, Jumat (1/2/2013), terkait kisruh sepakbola dalam negeri yang turut mengganggu potensi tim nasional.

Diceritakan pria yang baru tiga minggu ditugasi Presiden RI sebagai menpora tersebut, dirinya telah bertemu dengan Arifin Panigoro dan Nirwan Bakrie, yang selama ini diyakini sebagai figur di balik konflik antara PSSI dan KPSI.

Kepada Nirwan, ucap Roy, ia meminta supaya klub-klub ISL mau melepas pemainnya ke timnas. Akan tetapi ia juga mempertanyakan PSSI karena dinilai kurang profesional dalam prosedur pemanggilan pemain ke timnas.

"'Izinkanlah untuk membela timnas'. Saya bilang seperti itu ke Pak Nirwan. Tapi kata Pak Nirwan (dan Pak La Nyalla (Mattalitti), para pemain direkrut dengan tidak profesional. Ada yang cuma di-sms, ditelepon suruh datang," tutur Roy.

"Tapi kata Pak (Bernhard) Limbong (Penanggung Jawab Timnas—Red), ada kok suratnya. Jadi saya langsung konfrontir saja, dan ternyata ada yang suratnya di-keep oleh klub dan tidak diserahkan ke pemainnya. Pemain 'kan jadi (terbawa) konflik.

"Saya buka-bukaan saja supaya orang-orang mengerti dan (pemanggilan pemain) bukan hanya diumumkan di koran. Tapi sebagian memang ada yang tidak dikirimi surat. Mereka cuma dipanggil dan diumumkan di koran-koran, diisukan akan dipanggil ke timnas. Pemain kalau cuma isu saja juga tidak mau."

Lebih lanjut Roy juga mengisyaratkan dirinya akan benar-benar memaksa klub-klub ISL untuk melepas pemainnya karena bermain di timnas adalah demi membela bangsa dan negara.

Jika memang klub-klub itu tidak mau, Roy tak segan-segan untuk mencabut rekomendasi izin penyelenggaraan kompetisi. Hal ini terkait dengan pernyataan Roy beberapa waktu lalu soal rencana "smart" untuk menyatukan para pemain ISL dan LPI di timnas.

"Insya Allah ada rencana untuk itu (memaksa). Kita tegaskan realita dan fakta yang ada. Itu saya jadikan bargain supaya PSSI mau memanggil pemain-pemain terbaik yang sekarang main di ISL. Tapi kita tegaskan juga ke ISL dengan fakta dan data yang ada. Mereka harus merelakan (pemainnya dilepas ke timnas)," paparnya.

"Tapi ada mekanisme, pendaftaran pemain untuk laga lawan Irak sudah tutup dan nama-nama sudah masuk. Bisa kita lakukan cara smart (itu), tapi setelah permainan dilakukan. Tapi jelas akan ada pemaksaan. Itu sudah dilakukan dan sedang berjalan, dengan adanya deadline dan sebagainya, termasuk untuk kompetisi IPL. Tapi mudah-mudahan teman-teman (media) sudah bisa membaca langkah saya.

"Rekomendasi untuk ISL akan sangat dipertimbangkan untuk kita hold. Saya tidak mau katakan kapan karena itu harus mempertimbangkan banyak hal. Itu bukti saya tidak takut pada siapapun," tegasnya (Detik).


loading...
Bagikan artikel ini:
Suka artikel ini?
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

Top