Selamat datang. Selamat belajar, selamat berprestasi. Semoga sukses

Galeri Video

Powered by: Youtube

Kliping Pendidikan

Kliping Berita PNS

Otomotif

wawasan Islam

Kesehatan

loading...
loading...

Anggota Tim Disaster Victim Identification (DVI) Dr. Budi Sampurna mengatakan bila jenazah korban pesawat Air Asia QZ 8501 sudah mengalami kerusakan salah satu cara proses identifikasi yang tetap bisa dilakukan adalah pencocokan DNA (deoxyribonucleic acid).
Budi mengatakan mengingat jenazah yang sudah beberapa hari di laut tentu akan mengalami kerusakan. "DNA bisa bertahan 100 tahun," kata Budi, dalam konferensi pers di Mapolda Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (3/1).

Profesor Forensik dari Universitas Indonesia itu mengatakan selain pencocokan DNA pemeriksaan gigi dan sidik jari tetap dilakukan. Budi menegaskan sampai saat ini seluruh proses dan metode identifikasi terus dilakukan.

Identifikasi Jenazah
Menteri Kesehatan Dr. Nila Moeloek mengatakan hal yang senada. Nila mengatakan kemungkinan besar jenazah sudah rusak semakin besar. Yang bisa dilakukan mengidentifikasi organ atau data yang bertahan cukup lama seperti gigi dan pemeriksaan DNA.

Sebelumnya. Kepala Bagian Dokkes Polda Jatim Kombes Pol Budi Yono mengatakan Tim DVI dilengkapai ahli dari dalam dan luar negeri. Tim ahli dari berbagai Universitas di Indonesia turut membantu proses identifikasi ini.

Beberapa negara sahabat seperti Korea Selatan dan Singapura ikut menyumbangkan tim ahlinya. Ia yakin tim DVI dapat mengidentifikasi semua jenazah. "Keluarga bisa mempercayakan identifikasi ke Tim DVI," kata Budi.

DNA (deoxyribonucleic acid) atau asam deoksiribonukleat adalah sejenis biomolekul yang menyimpan dan menyandi instruksi-instruksi genetika setiap organisme. Setiap orang memiliki DNA yang unik, seperti halnya sidik jari. Karena itu, pengujian DNA menjadi salah satu cara untuk mengidentifikasi jenazah yang tidak dikenal.

Saat terjadi sebuah bencana, jenazah korban yang ditemukan tidak selalu utuh. Dalam kondisi seperti ini, identifikasi melalui DNA menjadi cara terbaik. Menurut Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Soebandrio, identifikasi jenazah dengan menggunakan DNA memiliki tingkat keakuratan yang sangat tinggi, yakni mencapai 99,9 persen, seperti dikutip dari detikHealth, Rabu (31/12).

Bagaimana prosedurnya?

Pertama-tama, tim forensik akan mengambil sampel DNA dari keluarga sedarah, lalu mengisolasi dan memperbanyak DNA, memisahkan berdasarkan muatannya secara elektroforesis, dan terakhir pembacaan. Proses ini biasanya hanya membutuhkan satu hari, namun proses analisis dan pembuatan laporan bisa memakan waktu lebih lama.

Proses yang cukup sulit dalam pengujian DNA adalah isolasi. Tempat yang lembap dan banyak jamur menyulitkan dalam isolasi DNA, sebab DNA lain bisa mengintervensi. Misalnya untuk mengidentifikasi jenazah seseorang di kuburan massal akan menemui kesulitan karena telah bercampur dengan jenazah lainnya. Maka itu, sumber DNA yang digunakan adalah tulang.

Untuk mengisolasi DNA, penyidik ataupun peneliti mengambil sumber DNA, misalnya dari darah. Kemudian darah merah dan darah putih dipecah membrannya. DNA tersebut akan diperbanyak hingga jutaan kali. Proses pengkopian ini menggunakan prinsip alamiah, sebagaimana DNA di dalam tubuh manusia yang juga diperbanyak. Bahan untuk memperbanyak DNA harus sama dengan yang digunakan di tubuh.

Semakin banyak sampel yang diambil maka DNA yang diperoleh akan semakin banyak. Namun, DNA untuk forensik tidak perlu banyak-banyak. Setitik darah saja sudah bisa dijadikan bahan untuk mengidentifikasi.
"Kalau masih baru (jenazahnya) biasanya masih mudah (diidentifikasi dengan DNA). Kalau kasus pembunuhan juga biasanya enggak sulit. Yang sulit itu kalau sudah lama, sudah membusuk, dan ini juga tergantung di mana jenazah ditemukan," kata Herawati Sudoyo, dokter, peneliti, dan penganalisa DNA forensik dari Lembaga Biologi Molekul Eijikman, dilansir dari detikHealth.

Menurut Hera, sampel DNA bisa berasal dari bagian tubuh mana saja, mulai dari darah, mukosa pipi, saliva (air liur), hingga sperma. Namun, darah paling banyak digunakan karena relatif lebih mudah mendapatkannya pada orang yang hidup. Sedangkan untuk jenazah, jika kondisinya sudah membusuk sehingga jaringan lunak atau dalam rusak, tes DNA masih bisa dilakukan menggunakan tulang.

Untuk melakukan uji DNA melalui darah, tim forensik harus memiliki sampel dari keluarga kandung. Yang terbaik adalah sampel dari orang tua, atau keluarga sedarah seperti kakak atau adik.
"Tapi kalau (kondisi) fisik masih utuh, enggak perlu dilakukan identifikasi melalui DNA," katanya.

Sumber: Republika, CNNIndonesia


loading...
Bagikan artikel ini:
Suka artikel ini?
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

Top