Selamat datang. Selamat belajar, selamat berprestasi. Semoga sukses

Galeri Video

Powered by: Youtube

Kliping Pendidikan

Kliping Berita PNS

Otomotif

wawasan Islam

Kesehatan

loading...
loading...

Peristiwa gerhana matahari total (GMT) masih menyisakan berbagai kisah-kisah menarik. Berikut ini fakta-fakta seputar GMT 2016:

Cuaca yang berbeda
GMT 2016 bisa disaksikan di 12 propinsi di Indonesia. Namun, cuaca daerah yang dilintasi GMT tidaklah sama. Cuaca cerah saat GMT terjadi di Mentawai, Tanjung Pandan, Pasangkayu, Mukomuko, Palu, Ternate dan Balikpapan. Sementara, kondisi langit berawan terjadi di daerah Palangkaraya, Palembang, Singkut-Solorangun (Jambi), dan Ketapang (Kalimantan Barat). Langit mendung saat GMT terjadi di daerah Paringin (Kalimantan Selatan).

GMT ini dimanfaatkan oleh para ilmuwan untuk melakukan penelitian. Peneliti Observatorium Bosscha Bandung Evan Irawan Akbar mengatakan data yang diperoleh dari pemantauan GMT di berbagai lokasi akan dibandingkan untuk keperluan riset. Bosscha akan melakukan riset mengenai pengaruh GMT terhadap perubahan gravitasi dan medan magnet Bumi.

Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) juga akan menggunakan data GMT untuk keperluan riset, LAPAN bersama Badan Antariksa AS (NASA) mendapatkan data dari pantuan di Maba, Halmahera Timur. Namun, lantaran cuaca yang tidak begitu baik, pantauan GMT banyak tertutup awan. LAPAN dan NASA hanya berhasil merekam data GMT pada 60 detik terakhir.
"Saat itu awan tebal sebanyak 65 persen, di sini (Maba) lebih banyak tertutup awan," ujar peneliti LAPAN, Emanuel Sungging.

Satwa ikut merespons terjadinya GMT
Peristiwa GMT juga dirasakan oleh hewan. Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkan perilaku burung betet Jawan tersebut berubah signifikan. Peneliti LIPI Bidang Laboratorium Nutrisi dan Penangkaran Satwa Bidang Unggas, Rini Rachmatika mengatakan sama seperti burung Kakatua Goffin, sebelum gerhana burung betet jawa aktif juga namun saat puncaknya gerhana malah tertidur.

Burung Betet Jawa tertidur tidak terlalu lama hanya beberapa saat saja ketika cahaya mulai redup. Begitupun juga ada perbedaan pada burung nuri kepala hitam ketika gerhana terjadi. Dari pemantauan perilaku burung tersebut, Rini berasumsi untuk burung yang biasa beraktivitas pada siang hari sangat terpengaruh. Sehingga, kata dia, burung-burung tersebut terlihat lebih diam ketika gerhana.
"Sebelum gerhana, burung nuri bertengger di kandang yang terkena sinar matahari. Tapi saat gerhana, berpindah ke kandang yang lebih gelap," kata Rini.

Ayam jantan juga berperilaku anomali ketika GMT. Ayam-ayam jantan mereka secara spontan langsung berkokok begitu matahari menampakkan diri setelah gerhana selesai.
“Masyarakat Katunjung banyak yang sengaja tak melepaskan ayam-ayamnya dari kandang. Ayam-ayam jantan ramai berkokok setelah gerhana selesai,” kata seorang warga, Iska Gushilman.

Penelitian dalam Journal of Current Biology menyebutkan, ayam jantan pada umumnya berkokok saat matahari terbit. Seorang peneliti dari Nagoya University, Takashi Yoshimura berpendapat hal itu dikarenakan ayam merespons perubahan cahaya. Hal ini juga terjadi saat mereka melihat lampu mobil atau sumber cahaya buatan lainnya.

Yoshimura dan sejumlah peneliti pernah mengamati perilaku 40 ekor ayam jantan. Ayam-ayam tersebut ditempatkan di sebuah lokasi dengan pengaturan cahaya konstan. Hasil rekaman pengamatan menunjukkan ayam-ayam jantan berkokok begitu mendapat respons cahaya. Kokok mereka paling kuat saat fajar tiba. Penelitian ini menunjukkan bahwa jam biologis berpengaruh pada waktu berkokoknya ayam.

Antusiasme masyarakat menyaksikan GMT
GMT yang terjadi pada tahun 2016 disambut euforia masyarakat. Guru besar astonomi Institut Teknologi Bandung (ITB) Suhardja D Wiramihardja mengatakan masyarakat semakin teredukasi dengan peristwa GMT. Dia mengenang saat GMT tahun 1983, GMT terakhir yang bisa dilihat dari Indonesia, masayrakat dilarang menyaksikan GMT.

Masayarakat dilarang keluar rumah saat gerhana. Sekolah-sekolah diliburkan pada saat itu. Pemerintah membuat pengumuman bahwa untuk mencegah kebutaan massal, maka gerhana tidak boleh disaksikan. Saat itu, beredar surat dari pemerintah atas nama gubernur, bupati yang memerintahkan aktivitas dihentikan pada saat GMT.
"Bupati menginstruksikan agar pada satu hari sebelumnya masyarakat mencari rumput lebih banyak (untuk pakan ternak) agar esok hari saat terjadi gerhana tidak perlu keluar rumah," ujar dia, mengenang.

Namun, GMT tahun ini sebaliknya. Masyarakat justru antusias menyaksikan GMT. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Arief Yahya memproyeksi sekitar 100 ribu wisatawan mancanegara dan lima juta wisatawan domestik berpartisipasi dalam event GMT di Indonesia. GMT terjadi di 12 provinsi di Indonesia.

Arief mengatakan Indonesia tidak boleh membiarkan fenomena alam yang menakjubkan ini berlalu begitu saja. Menurut dia, Indonesia harus mengerti marketing dan promosi sehingga event ini bisa bermanfaat bagi masyarakat dan pariwisata Indonesia. Dia mengingat peristiwa GMT tahun 1983, GMT terakhir yang bisa disaksikan dari Indonesia saat itu belum dikelola dengan baik, bahkan cenderung berkesan negatif sebagai sesuatu yang menakutkan.

Sumber : republika


loading...
Bagikan artikel ini:
Suka artikel ini?
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

Top